Jenis Pemeriksaan Diabetes Mellitus

[et_pb_section fb_built=”1″ specialty=”on” _builder_version=”4.9.2″ _module_preset=”default”][et_pb_column type=”3_4″ specialty_columns=”3″][et_pb_row_inner _builder_version=”4.9.2″ _module_preset=”default”][et_pb_column_inner saved_specialty_column_type=”3_4″ _builder_version=”4.9.2″ _module_preset=”default”][et_pb_text _builder_version=”4.9.2″ _module_preset=”default” hover_enabled=”0″ sticky_enabled=”0″]

Jenis Pemeriksaan Diabetes Mellitus – Pemeriksaan gula darah sewaktu dapat dilakukan kapan saja tanpa mempertimbangkan waktu makan terakhir. Pemeriksaan ini dilakukan sebagai pemantauan kadar gula darah pasien Diabetes Mellitus. Selain untuk pasien DM pemeriksaan GDS juga biasa dilakukan untuk mengetahui kadar gula darah pada pasien.

Jenis Pemeriksaan Diabetes Mellitus

Pemeriksaan gula darah puasa menuntut pasien untuk berpuasa 8-10 jam sebelum dilakukan pemeriksaan. Hal ini untuk menjaga akurasi hasil pemeriksaan agar tidak terpengaruh makanan yang dikonsumsi sebelumnya. Pemeriksaan gula darah puasa adalah salah satu jenis pemeriksaan awal yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis Diabetes Mellitus.

Gula Darah 2 Jam Post Prandial

Sepuluh menit setelah makan, kadar gula darah akan mulai mengalami kenaikan dan mencapai puncaknya setelah 2 jam. Setelah 2-3 jam, gula darah akan turun kembali ke kondisi normal. Tes gula darah post prandial dilakukan 2 jam setelah pasien makan, dan biasanya dikerjakan setelah tes gula darah puasa. Tes ini dapat menggambarkan kemampuan tubuh dalam mengontrol kadar gula dalam darah, yang terkait dengan jumlah serta sensitivitas Insulin di dalam tubuh.

HbA1C

Pemeriksaan HbA1C dilakukan untuk hal-hal berikut ini :

Mengidentifikasi adanya kondisi prediabetes

Mendiagnosis diabetes tipe 1 dan tipe 2 bersamaan dengan tes diabetes lainnya

Mengevaluasi terapi diabetes, untuk melihat efektivitas terapi dalam menurunkan kadar gula darah

Pemeriksaan atau tes HbA1C (A1C) adalah tes darah yang digunakan untuk mendiagnosis penyakit diabetes tipe 1 dan tipe 2, serta mengevaluasi efektivitas terapi diabetes. Pemeriksaan HbA1C dilakukan dengan mengukur persentase hemoglobin (protein di sel darah merah yang membawa oksigen) yang terlapisi oleh gula. Dari hasil pemeriksaan HbA1C dapat diperkirakan rata-rata kadar gula darah dalam 2-3 bulan terakhir. Semakin tinggi kadar HbA1C, maka semakin buruk kontrol gula di dalam darah, yang meningkatkan risiko terhadap komplikasi dari diabetes.

Hasil pemeriksaan HbA1C dilaporkan dalam bentuk persentase. Persentase ini menunjukkan jumlah haemoglobin yang terlapis oleh gula di dalam darah. Untuk kepentingan diagnosis, berikut hasil interpretasi pemeriksaan HbA1C:

Normal: < 5.7%

Prediabetes: 5.7-6.4%

Diabetes: ≥ 6.5%

[/et_pb_text][/et_pb_column_inner][/et_pb_row_inner][/et_pb_column][et_pb_column type=”1_4″][et_pb_sidebar area=”et_pb_widget_area_1″ _builder_version=”4.4.9″ body_font=”|700|||||||” body_text_color=”#000000″ background_color=”#e8e8e8″ custom_padding=”10px|10px|10px|10px|true|true” border_width_all=”1.2px” border_color_all=”rgba(0,0,0,0)” border_color_all__hover_enabled=”on|hover” border_color_all__hover=”#eb3155″ body_text_color__hover_enabled=”on|hover” body_text_color__hover=”#eb3155″ global_module=”987466610″][/et_pb_sidebar][/et_pb_column][/et_pb_section]